Tampilkan postingan dengan label SEJARAH. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label SEJARAH. Tampilkan semua postingan

Jumat, 18 September 2015

Sejarah Kepramukaan Di indonesia

Sejarah kepramukaan di Indonesia tidak bisa dilepaskan dengan sejarah perjuangan kemerdekaan bangsa Indonesia. Gagasan Baden Powell yang membentuk kepramukaan dengan cepat menyebar ke berbagai negara, termasuk Belanda. Di negara Belanda kepramukaan disebut sebagai Padvinder. Di negara jajahannya, termasuk Indonesia, Belanda mendirikan organisasi Kepramukaan. Di Indonesia dikenal dengan istilah NIPV (Netherland Indische Padvinder Vereniging; Persatuan Pandu-Pandu Belanda). Organisasi ini dikhususkan bagi anak-anak Belanda. 

Oleh tokoh-tokoh pergerakan nasional Indonesia dibentuk organisasi kepanduan yang bertujuan membentuk manusia Indonesia yang baik dan menjadi kader pergerakan nasional. Karenanya kemudian muncul organisasi-organisasi kepramukaan pribumi yang kala itu jumlahnya mencapai lebih dari seratus organisasi. Organisasi itu semisal; JPO (Javananse Padvinders Organizatie); JPP  (Jong Java Padvinderij), SIAP (Sarekat Islam Afdeling Padvinderij); HW (Hisbul Wathon) dll. 

Sejarah terus berlanjut. Melihat maraknya organisasi kepramukaan milik pribumi yang bermunculan, Belanda akhirnya membuat peraturan untuk melarang organisasi kepramukaan di luar milik Belanda menggunakan istilah Padvinder. Karena itu kemudian KH. Agus Salim menggunakan istilah "Pandu" dan "Kepanduan". 

Sejak tahun 1930 timbul kesadaran dari tokoh-tokoh Indonesia untuk mempersatukan organisasi kepramukaan. Maka terbentuklah KBI (Kepanduan Republik Indonesia). KBI merupakan gabungan dari organisasi kepanduan seperti IPO, PK (Pandu Kesultanan), PPS (Pandu Pemuda Sumatra). 

Dan pada tahun 1931 terbentuk PAPI (Persatuan Antar Pandu-Pandu Indonesia), kemudian diubah menjadi BPPKI (Badan Pusat Persatuan Kepanduan Indonesia) pada tahun 1938. 

Pada waktu pendudukan Jepang, kepanduan di Indonesia dilarang sehingga tokoh Pandu banyak yang masuk Keibondan, Seinendan dan PETA. 

Setelah masa kemerdekaan dibentuklah organisasi kepanduan yang bersifat nasional  yaitu Pandu Rakyat Indonesia yang dideklarasikan di Solo pada tanggal 28 Desember 1945. Pandu Rakyat Indonesia menjadi satu-satunya organisasi kepramukaan di Indonesia saat itu. 

Namun pada masa leberalisme, kembali bermunculan berbagai organisasi kepanduan seperti; HW, SIAP, Pandu Indonesia, Pandu Kristen, Pandu Ansor, KBI dll yang jumlahnya mencapai seratusan lebih. Sebagian organisasi tersebut terhimpun dalam tiga federasi yaitu; IPINDO (Ikatan Pandu Indonesia, berdiri tanggal 13 September 1951), POPPINDO (Persatuan Organisasi Pandu Putri Indonesia, berdiri tahun 1954) dan PKPI (Persatuan Kepanduan Putri Indonesia). 

Pada 1953 IPINDO berhasil menjadi anggota kepramukaan sedunia. Pada tanggal 10-20 Agustus 1955 IPINDO juga berhasil menyelenggarakan Jambore Nasional I di Pasar Minggu Jakarta. Sedangkan POPPINDO dan PKPI pernah bersama-sama  menyambut singgahnya Lady Baden Powell (istri Baden Powell) ke Indonesia, dalam perjalanan ke Australia. Pada tahun 1959, PKPI mengadakan perkemahan besar untuk pramuka putri yang disebut “Desa Semanggi” di Ciputat. Pada tahun ini juga IPINDO mengirimkan kontingen ke Jambore Dunia di MT. Makiling Filipina.  

Menyadari kelemahan yang ada, ketiga federasi tersebut akhirnya meleburkan diri menjadi PERKINDO (Persatuan Kepanduan  Indonesia). Namun ternyata Perkindo sendiri kurang solid sehingga  coba  dimanfaatkan oleh pihak komunis agar menjadi gerakan Pionir Muda seperti di negara komunis lainnya. 

Mulai tahun 1960-an, berbagai pihak termasuk pemerintah dan MPRS melakukan berbagai upaya untuk melakukan penertiban organisasi kepanduan termasuk upaya untuk mendirikan Gerakan Pramuka. 

Pada hari Kamis malam tanggal 9 Maret 1961 Presiden mengumpulkan tokoh-tokoh dan pemimpin gerakan kepramukaan Indonesia, bertempat di Istana Negara. Presiden mengungkapkan bahwa kepanduan yang ada harus diperbaharui, metode dan aktivitas pendidikan harus diganti, seluruh organisasi kepanduan yang ada dilebur menjadi satu yang disebut Pramuka. 

Presiden juga menunjuk Panitia Pembentukan Gerakan Pramuka yang terdiri atas Sri Sultan Hamengku Buwono IX, Menteri P dan K Prof. Prijono, Menteri Pertanian Dr.A. Azis Saleh dan Menteri Transmigrasi, Koperasi dan Pembangunan Masyarakat Desa, Achmadi. Peristiwa ini kemudian disebut sebagai HARI TUNAS GERAKAN PRAMUKA 

Panitia inilah yang kemudian mengolah Anggaran Dasar Gerakan Pramuka, sebagai Lampiran Keputusan Presiden R.I Nomor 238 Tahun 1961, tanggal 20 Mei 1961 tentang Gerakan Pramuka. Kepres ini menetapkan Gerakan Pramuka sebagai satu-satunya organisasi kepanduan yang ditugaskan menyelenggarakan pendidikan kepanduan bagi anak-anak dan pemuda Indonesia. Peristiwa ini kemudian disebut sebagai HARI PERMULAAN TAHUN KERJA. 

Kepres Nomor 238 Tahun 1961 ini ditandatangi oleh Perdana Menteri Ir. Juanda sebagai Pejabat Presiden Karena Presiden RI, Ir. Soekarno saat itu sedang berkunjung ke Jepang. 

Pada tanggal 30 Juli 1961,  bertempat di Istora Senayan (Sekarang Stadiun Gelora Bung Karno), tokoh-tokoh organisasi kepanduan di Indonesia yang menyatakan dengan ikhlas meleburkan diri ke dalam organisasi Gerakan Pramuka. Peristiwa ini kemudian disebut sebagai HARI IKRAR GERAKAN PRAMUKA. 

Presiden Soekarno menyerahkan panji kepramukaan

Pada tanggal 14 Agustus 1961, dilakukan Pelantikan Mapinas (Majlis Pimpinan Nasional), Kwarnas dan Kwarnari di Istana Negara, dilanjutkan penganugerahan Panji-panji Kepramukaan dan defile Pramuka untuk memperkenalkan Pramuka kepada masyarakat yang diikuti  oleh sekitar 10.000 Pramuka. Peristiwa ini kemudian disebut sebagai HARI PRAMUKA yang diperingati hingga sekarang. 

Mapinas saat itu diketuai oleh Dr. Ir. Soekarno (Presiden RI)  dengan Wakil Ketua I, Sri Sultan Hamengku Buwono IX dan Wakil Ketua II Brigjen TNI Dr.A. Aziz Saleh. Sementara Kwarnas, diketuai oleh Sri Sultan Hamengku Buwono IX dan  Brigjen TNI Dr.A. Aziz Saleh sebagai Wakil Ketua merangkap Ketua Kwarnari. 

sumber: pramuka.or.id/sejarah-pramuka-indonesia/

Selasa, 08 September 2015

              Sejarah Permainan Bola Voli



Pernah bermain bola voli atau gemar bermain bola voli? Bola voli adalah salah satu cabang olahraga yang diminati berbagai kalangan di Indonesia, mulai dari dewasa, anak-anak, laki-laki dan wanita. Hal ini dikarenakan permainan bola voli tidak serumit permainan yang lainnya karena lebih menitikberatkan pada kerja sama dan kekompakan tim. Namun, tahukah Anda darimana sebenarnya permainan bola voli berasal? Jawaban dari pertanyaan ini telah terangkum dalam sejarah bola voli di bawah ini.

Sejarah Permainan Bola Voli

Sejarah Permainan Bola Voli
Sejarah Permainan Bola Voli

Awal Perkembangan Bola Voli

Sosok William B. Morgan adalah pencetus dari permainan bola voli pada tahun 1895 di Holyoke, Amerika Serikat. William B. Morgan sendiri adalah seorang pembina pendidikan jasmani pada Young Men Christain Association (YMCA).
Karena perkembangan permainan bola voli yang begitu cepat maka YMCA mulai mengadakan kejuaraan bola voli secara nasional. Kemudian permainan bola voli  ini menyebar ke seluruh dunia. Pada tahun 1974, pertama kali bola voli dipertandingkan di Polandia dengan peserta yang cukup banyak. 
Pada tahun 1984 didirikanlah Federasi Bola Voli Internasional atau Internationnal Voli  Ball Federation (IVBF) yang waktu itu beranggotakan 15 negara dan berkedudukan di Paris. Organisasi ini sebagai induk dari permainan bola voli internasional.

Penyebaran Bola Voli

Hasil gambar untuk permainan bola vollyPermainan bola voli begitu cepat menyebar dan menjadi olahraga yang di gemari di berbagai negara, hal ini disebabkan karena permainan bola voli tidak memerlukan lapangan yang luas, mudah untuk dimainkan, alat-alat yang digunakan untuk bermain terbilang sederhana, permainan yang sangat menyenangkan, kemungkinan terjadinya kecelakaan sangat kecil, dapat dimainkan di alam bebas maupun di ruang tertutup, dan dapat di mainkan oleh banyak orang.

Sejarah Permainan Bola Voli di Indonesia  

Sejarah permainan bola voli di Indonesia dimulai saat masa penjajahan bersamaan dengan jalur perdagangan dan kolonialisme pada tahun 1928 oleh Belanda. Perkembangan permainan bola voli terbilang begitu cepat di Indodesia. Hal ini dapat dibuktikan pada Pekan Olahraga Nasional (PON) ke-2 tahun 1952 di Jakarta. Hingga saat ini permainan bola voli termasuk salah satu cabang olahraga yang resmi dipertandingkan di berbagai kejuaraan di Indonesia.
Pada tahun 1955, tepatnya tanggal 22 Januari didirikan Organisasi Bola Voli Seluruh Indonesia (PBVSI) dengan ketuanya W. J. Latumenten. Setelah adanya induk organisasi bola voli ini, maka pada tanggal 28 - 30 Mei 1955 diadakan kongres dan kejuaraan nasional yang pertama di Jakarta.

 sumber: www.kopi-ireng.com/2014/08/permainan-bola-voli.html

Selasa, 05 Mei 2015

Sejarah Karangsari,Pengkol,Nglipar,Gunungkidul


        Dulunya Desa Karangsari,Namanya bukan Karangsari tetapi Karangasri yang berasal dari kata karang yang artinya rumah bagi ribuan hewan laut,asri yaitu tempat yang indah,tetapi lama -kelamaan karangasri berganti nama menjadi karangsari.Karangsari berbatasan dengan sebelah selatan karangpelem,sebelah timur sungai jengglong,sebelah barat ngasem dan sebelah utara pagutan. Ada sebuah desa karangsari yang dinamakan kedunggede yaitu desa yang banyak sungainya yang besar. da.Ada beberapa RT di Karangsari yang mempunyai nama-namasendiriseperti Mbalong,Ndeso,Ngembes,Pungpungan,Plintaan ,Ngledokan dan Kepuh.Ada juga beberapa sungai di karangsari yaitu sungai Jengglong,sungai dongtok,sungai dongjenggot yang merupakan sungai yang angker dan mengeeikan yang memakan banyak korban, zaman dahulu ada anak yang memancing di sungai tersebut namun akhirnya meninggal. Jumlah penduduk Karangsari sekitar 1500 jiwa dan 250 kepala keluarga dan beranggotakan 11 RT.Sebagian penduduk karangsari bermata pencaharian sebagai petani,Pns,peternak ,dan pembuat kerajinan seperti meja, kursi, lemarim dan perabotan lainnya.  Ada tempat berwirausaha seperti warung, tempat penggilingan padi, gaplek, kelapa, tempat  penggergajian, kolam untuk pembudidayaan ikan dan sebagainya. Sekitar tahun 2014 kemarin desa karangsari juga diberi kepercayaaan oleh buopati Gunungkidul untuk mendirikan sumur bur di salah satu pekarangan warga, yaitu di kebun Mbah Harso Timbul yang berkedalaman 125 meter, tempat mata air tersebut digunakan oleh beberapa kepala keluarga dengan jalan memasang selang sendiri untuk mengalirrkannnya tidak menggunakan biaya untuk mengambil air tersebut. Karangsari belum lama ini juga mendirikan posko para TAGANA.
      Sebagian penduduk karangsari bersekolah tingkat SD, SMP, SMKdan ada pula yangmelanjutkan sampai perguruan tinggi. Banyak pemuda karangsari yang sukses menjadi pegawai negeri khususnya guru. Setiap sore para pemuda saling berlatih bermain volly di lapangan karangsari. Latihan tersebut berguna untuk meneruskan kader-kader yang baru di karangsari khususnya IPPK.
    Kebanyakan penduduk karangsari beragama islam, jadi ada 1 masjid dan 3 mushola di karangsari. Setiap malam jum'at beryasinan di rumah warga secara bergantian dan juga minggu kliwon juga masih terus dijalankan. Kesenian di karangsari meliputi:jatilan, reog, rebana, klenengan (KARAWITAN) setiap bersih desa atau acara-acara tertentu kesenian tersebut dipertunjukkan untuk melestarikan dan nguri-uri  budaya jawa dan menghibur masyarakat khususnya warga karangsari.
    Organisasi yang ada di karangsari seperti ibu-ibu PKK,karangtaruna. Posyandu juga diadakan setiap tanggal 10 setiap bulannya dangan membayar 1000 setiap berangkat ke posyandu untuk uang kas, pengurus PKK Ibu-ibu PKK dipimpin oleh ibu dukuh.
      Transportasi dusun karangsari sudah berjalan dengan lancar dengan kemajuan IPTEK, sampai saat ini warga karangsari rukun dandamai .Baru- baru ini karangsari juga mendapat bantuan dari pemerintah daerah yaitu BAPPEDA Gunungkidul sebuah pasar yang terletak di desa sigro dusun karangsari.